Pemanfaatan Lahan Pekarangan dengan Menanam Buah Naga

Masyarakat Desa Panca Tunggal Jaya yang sebelumnya petani Karet dan Sawit memperbaiki mata pencahariannya melalui budidaya tanaman buah naga. Hal ini dilakukan karena kondisi tanah dan ketinggian desa cocok untuk pengembangan budidaya buah naga, jangka waktu panen relatif cepat, serta harga jual bersaing. Gapoktan Desa Panca Tunggal jaya memerintahkan agar anggotanya  menanam minimal 20 pohon buah naga di rumah atau tanah mereka.

LATAR BELAKANG

  • Desa Panca Tunggal Jaya, Kecamatan terletak di dataran tinggi di Kabupaten Tulang Bawang, dengan sumber penghasilan mayoritas penduduk desa adalah Karet dan Sawit.
  • Perekonomian terganggu pada saat harga karet menurun drastis dan harga buah sawit menurun.
  • Meski mampu panen sepanjang tahun, namun dibutuhkan waktu 5 tahun untuk panen Karet
  • Banyak lahan pekarangan yang tidak dimanfaatkan

SOLUSI

pemanfaatan Lahan Pekarangan melalui budidaya Buah Naga dapat membantu pendapatan keluarga.

PROSES PENYELESAIAN MASALAH

  • GAPOKTAN Desa Panca Tunggal Jaya mendapat informasi tentang potensi budidaya tanaman buah naga yang melihat kesuksesan petani tanaman tersebut dari Desa Bogatama dan cocok dengan kondisi desa yang berada di dataran Tinggi
  • GAPOKTAN desa tersebut membawa pulang beberapa stek tanaman buah naga untuk dicoba tanam di halaman rumahnya yang masih kosong tidak ditanami.
  • Hasil uji coba ini menghasilkan panen pertama setelah 8 bulan masa tanam dan terjual cepat dengan harga Rp 20.000 per kilogram sehingga menarik perhatian 50% persen warga desa.
  • Warga berbondong-bondon berkonsultasi dengan tentang keinginan mereka mencoba menanam buah tersebut di pekarangan rumahnya masing-masing.
  • Warga diberi gratis oleh GAPOKTAN bibit buah naga dari stek pohon yang sudah berbuah.
  • Pada tahap awal penanaman buah naga, warga sering mendatangi rumah sang GAPOKTAN dan berkumpul untuk berkonsultasi cara merawat buah naga yang baik.
  • Warga mulai menikmati panen buah naga dan hasilnya dikumpulkan di rumah GAPOKTAN untuk dijual. Melihat potensi panen yang besar dan serempak, warga mulai mencari jejaring pemasaran dan kemungkinan kerja sama dengan toko buah dan supermarket
  • Tuntutan pasar akan buah naga yang semakin besar ini menarik perhatian Pemerintah Desa untuk mendorong budidaya buah naga tersebut sebagai komoditas desa

H A S I L

  • 50 persen warga desa yang memiliki pekarangan dan lahan kosong menanam buah naga
  • Pendapatan masyarakat meningkat sebesar 20% persen dibandingkan saat menjadi petani Karet.Dengan luas lahan yang sama, sebagai petani karet.
  • Warga dapat menikmati 8 kali panen buah naga setiaptahun, dimana harga jual Rp 20 ribu/kg.
  • Pemasaran yang mudah menumbuhkan minat warga budidya buah naga.

PEMBELAJARAN

Inovasi yang positif  dapat membawa perubahan signifikan dengan dasar pengetahuan yang baik dan mampu menunjukkan hasil nyata

  • Perlu melibatkan BUMDes dalam pemasaran sehingga dapat berkontribusi dalam pendapatan Tambahan keluarga.
  • Perlu pelatihan untuk produksi buah naga yang tidak layak jual/apkir agar diolah menjadi makanan olahan
  • Dengan semakin meluasnya jangkauan pemasaran, kualitas panen perlu dipertahankan

 

KOTAK INFORMASI

SUPRIYADI

POKTAN PANCA TUNGGAL JAYA

Telpon Gemgam : 085377468677

 

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan